Khawatir Kabur, ke Mana-Mana Dapat Kawalan Ketat
Meski sudah belasan tahun tinggal di Arab Saudi, WNI yang bekerja dan bermukim (mukimin) di kerajaan yang didirikan Bani Saud itu tidak bisa otomatis bisa berhaji. Mereka harus menjalani prosedur yang rumit, termasuk biaya yang tidak sedikit.
SOEPARLI DJOEMATMADJI, Madinah
MINGGU malam (18/9) udara Kota Madinah cukup dingin. Para jamaah yang menunaikan salat Isya di Masjid Nabawi yang indah sudah pulang ke pemondokan masing-masing. Tiba-tiba, dua warga lokal Arab masuk ke ruang Media Center Haji (MCH) Indonesia di Madinah.
Pria bertubuh gemuk, berusia 40-an tahun, yang saat itu didampingi anak muda belasan tahun tersebut adalah majikan yang tinggal di sekitar Madinah. Dia yang kebetulan mempekerjakan seorang TKI (tenaga kerja Indonesia) di rumah bertanya apakah kantor Daerah Kerja (Daker) Haji RI di Madinah bisa membantu keinginan anak buahnya berhaji.
"Mereka bilang, TKI yang dipekerjakan (di rumahnya) itu ingin naik haji. Tapi, mereka tidak tahu caranya," kata warga lokal yang jadi penerjemah di MCH kepada Jawa Pos.
Dua orang majikan yang mau bersusah-susah bertanya ke daker demi anak buah termasuk langka. Tak banyak majikan yang mau seperti itu. Sebab, selama anak buah menjalankan berbagai ritual haji, TKI itu harus libur kerja agak panjang. Belum lagi risiko seandainya sesudah musim haji tiba-tiba kabur, tidak kembali ke rumah majikan.
Kenyataan itulah yang membuat banyak majikan di negeri yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia itu tidak gampang melepas TKI berhaji. Kalaupun setuju, syaratnya macam-macam. Termasuk jaminan uang.
Hal lain yang mengakibatkan TKI tidak gampang naik haji meski sudah jadi mukimin di Saudi adalah penduduk lokal Saudi sendiri "dibatasi" untuk bisa berhaji.
Lalu, apakah itu berarti TKI yang bertahun-tahun bekerja di Saudi harus pulang dulu ke Indonesia, mengurus parpor haji, membayar sekitar Rp 27 juta, lalu berangkat bersama jamaah lain bila ingin naik haji?
Dubes RI untuk Arab Saudi Salim Segaf Aljufri yang ditemui Jawa Pos di Madinah mengatakan, TKI yang tinggal di Saudi tak bisa bergabung dengan jamaah yang berangkat dari tanah air. "Mereka bisa naik haji melalui hamlah atau biro travel setempat. Hamlah ini ada di Madinah, Jeddah, dan Riyadh. Hanya Makkah yang tidak punya hamlah. Tapi, mereka yang tinggal di Makkah kan memang bisa langsung naik haji," katanya.
Aljufri tidak memberikan keterangan lebih detail tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi TKI agar bisa naik haji melalui hamlah. Namun, berdasar informasi yang diperoleh Jawa Pos dari H. Ali, mukimin asal Bangkalan, Madura, untuk bisa berhaji tak harus melalui jalur "formal" seperti hamlah itu.
Ali yang sudah 19 tahun tinggal di Saudi bersyukur setiap tahun bisa naik haji. Bahkan, Ali mengaku bisa "menghajikan" alias membantu para mukimin di Saudi, baik yang tinggal di Jeddah, Madinah, maupun Riyadh untuk melaksanakan ibadah haji.
Menurut Ali, syarat paling penting adalah izin dari kafil (majikan). Asal sang majikan mengizinkan, TKI bisa naik haji melalui muasasah (yayasan). Hamlah, salah satunya. Bila melalui muasasah, TKI harus membayar 1.200 hingga 1.500 riyal atau sekitar Rp 3 juta hingga Rp 3,8 juta bergantung fasilitas yang disediakan.
Biaya itu termasuk transportasi, konsumsi, pemondokan, hingga dam (denda dalam proses haji, biasanya berupa penyembelihan kambing). Muasasah juga bertanggung jawab bila TKI yang berangkat haji melalui yayasannya kabur, baik kabur ke majikan lain maupun pulang ke tanah air. "Bila terjadi jamaah kabur, muasasah harus membayar 6.000 riyal (sekitar Rp 15 juta) kepada kafil si TKI," kata Ali.
Angka 6.000 riyal itu, kata Ali, adalah perkiraan ongkos yang dikeluarkan kafil untuk mendatangkan seorang TKI dari Indonesia ke Arab Saudi. Yakni, untuk biaya transportasi, visa, dan urusan lain yang diperlukan. "Jadi, kalau TKI yang diserahkannya ke muasasah untuk berangkat haji sampai kabur, ya pihak muasasah harus membayar biaya tersebut," terangnya.
Akibatnya, lanjut Ali, TKI yang naik haji melalui muasasah diawasi cukup ketat. Itu membuat ruang gerak si TKI jadi terbatas. Ke mana-mana dibatasi, ke mana-mana diawasi. Karena itu, umumnya TKI tidak suka naik haji melalui muasasah.
Alternatifnya? Di sinilah para mukimin seperti kelompok Ali berperan. Ali dan kelompoknya sudah bertahun-tahun menangani TKI di Arab Saudi yang berhaji. "Tahun lalu, kami memberangkatkan seribu lebih TKI menjadi jamaah haji," katanya.
Tak beda dengan muasasah, kelompok Ali juga hanya mensyaratkan izin dari kafil. Setelah itu, urusan pemondokan, konsumsi, dan transportasi mereka yang mengurusi. "Asal ada izin dari majikan, kami akan urus selebihnya," kata H Abdul Azis, mukimin lain yang sekelompok dengan H Ali.
Dari segi biaya, lanjut Azis, TKI yang berhaji melalui kelompoknya bisa lebih murah. Azis menyebut angka 900 riyal (lebih murah sedikitnya 300 riyal atau sekitar Rp 730 ribu daripada muasasah) sebagai ongkos naik haji TKI melalui kelompoknya. "Itu sudah termasuk makan, pemondokan, kendaraan, dam, dan bimbingan beribadah," katanya.
Sama juga dengan muasasah, kelompok Ali dan Azis juga harus membayar denda 6.000 riyal kepada kafil bila TKI yang berhaji melalui kelompoknya kabur. Tapi, Ali menjamin kemungkinan kabur bagi TKI yang naik haji melalui kelompoknya lebih kecil. "Kan kami tahu alamat dia di tanah air. Kalau dia kabur ke tanah air, kami bisa menyusulnya ke kampung," kata Ali.
Kalau kaburnya ke majikan lain? "Kita di sini kan punya tempat berkumpul. Di sana kita bisa saling bertukar informasi. Jadi, tidak sulit bagi kami menemukan TKI yang berpindah ke majikan lain," ujarnya.
Dengan alasan itu, kata dia, TKI yang berhaji melalui kelompoknya bisa lebih leluasa karena pengawasannya tidak seketat muasasah. Bahkan, kelompok ini bisa memberikan tenaga pembimbing lebih. Saat tawaf dan sai di Makkah, misalnya, mereka menyediakan dua orang untuk tiap rombongan 20 jamaah.
"Seorang di depan, seorang lagi di belakang. Mereka juga membacakan doa yang disunahkan dibaca saat tawaf dan sai. Jamaah tinggal menirukan," katanya. (bersambung)
jawapos.com
Wednesday, November 21, 2007
Liku-Liku WNI Mukimin di Arab Saudi Mencari Jalan Berhaji (1)
Posted by PUMITA at 4:21 PM 1 comments
Tuesday, November 13, 2007
Kontroversi Pembangunan Masjid di London
LONDON - Atmosfer politik London, Inggris, memanas. Sebuah kontroversi muncul ketika Tablighi Jamaat (TJ), organisasi muslim terbesar di Inggris, melontarkan rencana membangun masjid terbesar di Eropa.
Beberapa kalangan, termasuk anggota parlemen Inggris, menentang rencana tersebut. Alasannya, TJ memiliki kaitan dengan dua pelaku bom London 2005 silam.
Masjid tersebut akan dibangun di sebuah lahan bekas pabrik kimia seluas 18 acre (72.83 meter persegi) di kawasan Abbeymills, London Timur. Lokasinya berdekatan dengan taman yang akan digunakan sebagai arena utama Olimpiade 2012. Masjid itu nanti bisa menampung 12.000 jamaah serta memiliki fasilitas penunjang, seperti sekolah muslim serta gedung pertemuan.
Warga setempat, didukung beberapa anggota parlemen Inggris, menentang rencana tersebut. Untuk menunjukkan aspirasinya, awal tahun ini, sekitar 280 orang menandatangani petisi online di situs yang dikelola kantor PM Inggris Gordon Brown.
"Saya tidak antimuslim. Bahkan, saya ingin membicarakan masalah ini ketimbang saling teriak menyalahkan," kata Alan Craig, politikus yang menentang rencana tersebut. Craig, yang juga anggota Christian People’s Alliance Party (Partai Aliansi Rakyat Kristen), menekankan bahwa objek keberatannya bukanlah Islam, melainkan TJ.
"Warga muslim berhak punya masjid seperti Kristen berhak punya gereja," katanya. Namun, dia keberatan dengan TJ yang berada di balik pembangunan masjid tersebut karena dianggap sebagai salah satu kelompok fundamentalis.
Tahun lalu, Michael Gove, anggota parlemen Inggris, menyebut dua pelaku bom London Juli 2005 memiliki kaitan langsung dengan salah satu masjid yang dikelola TJ di Dewsbury, Inggris Utara. Sejak aksi bom bunuh diri di stasiun kereta bawah tanah yang menewaskan 52 orang itu, warga muslim Inggris sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan.
Tudingan itu langsung dibantah TJ. Dalam situsnya, TJ mengklaim bahwa mereka tidak terkait dengan aksi terorisme atau teroris itu sendiri. Mereka mendeskripsikan dirinya sebagai penyebar Islam dan gerakan pembaruan. "Kami tidak mengajarkan gerakan ekstremis. Tapi, kami juga tidak bisa menjelaskan dengan detail siapa saja yang datang ke masjid kami," katanya.
TJ berdiri pada akhir 1920-an di kawasan Mewat, India, sebelum berkembang di berbagai negara. Kini mereka mengklaim punya 80 juta pendukung di seluruh dunia.
Profesor Yoginder Sikand, mengaku tahu seluk-beluk TJ. Dosen Jamia Millia Islamia, sebuah universitas di New Delhi, itu menegaskan, struktur organisasi tersebut jauh dari gambaran sebuah kelompok teroris.
Menurut Sikand, pembangunan masjid itu memiliki arti lain. "Selain tempat ibadah, masjid tersebut menjadi simbol identitas warga muslim yang merasa terancam," katanya.
"Mereka (warga muslim) seakan menyatakan tidak masalah publik Inggris tidak suka dengan Islam. Tapi, mereka tidak akan menyembunyikan identitas sebagai muslim," jelasnya.
Dukungan serupa diungkapkan pemerintah London yang dipimpin Wali Kota Ken Livingstone. "Kampanye menentang pembangunan tempat ibadah muslim di London harus dikecam oleh semua yang mendukung hak serta kebebasan beragama di negara ini," katanya merujuk pada petisi online yang digagas kantor PM Inggris.(afp/any)
sumber : jawapos.com
Posted by PUMITA at 12:11 AM 1 comments
Sunday, November 11, 2007
Ciptakan Mobil Islami
KUALA LUMPUR - Dua negara Islam, Iran dan Malaysia, bergabung dengan Turki (yang mayoritas penduduknya juga muslim), bergandeng tangan menciptakan mobil Islami. Mobil tersebut dilengkapi kompas untuk menentukan arah kiblat serta kompartemen kecil yang bisa digunakan untuk menyimpan Alquran plus jilbab.
Usul mengenai mobil Islami itu dilontarkan Pemerintah Turki ketika Syed Zainal Abidin Syed Mohamed Tahir, managing director Proton, berkunjung ke Teheran beberapa waktu lalu. "Kami masih belum menentukan mobil tersebut akan diproduksi di Malaysia, Iran, atau Turki. Tapi, yang pasti, mobil itu bakal dilempar di pasar global," kata Syed Zainal Abidin seperti dilansir Kantor Berita Malaysia Bernama kemarin (11/11).
Rencana kerja sama tersebut muncul setelah Proton berhasil memenangkan tender pengadaan lima ribu mobil jenis waja yang diproduksinya untuk digunakan sebagai taksi di Iran. Ini merupakan bagian dari program Pemerintah Iran meremajakan alat transportasinya. Program tersebut bernilai USD 200 juta (sekitar Rp 1,8 triliun).
Proton sendiri berusaha keras meningkatkan nilai ekspornya setelah pasar domestik mereka jatuh hingga mencapai 23 persen. Padahal, lima tahun lalu, mereka menguasai 60 persen pasar mobil domestik. Jatuhnya penjualan Proton dipicu semakin rendahnya pajak yang dikenakan terhadap mobil impor. Dulu, pajak tersebut sengaja ditetapkan setinggi-tingginya agar warga Malaysia membeli produk Proton. (AFP/AP/any)
sumber: JawaPos.com
Posted by PUMITA at 3:53 PM 1 comments
Saturday, November 10, 2007
Komunitas Muslim Evansville yang Bawa Citra Positif Islam di Amerika
Kedermawanan Mereka Terdengar sampai Batam
Kiprah komunitas muslim di Evansville, Indiana, AS, terkenal sampai ke luar negeri. Mereka juga disurati orang dari Indonesia. Berikut laporan lanjutan dari Amerika.
PERISTIWA 11 September ikut mengguncang komunitas muslim di Evansville. Sebelum peristiwa mengerikan itu, komunitas tersebut rutin mengirimkan dana bantuan kemanusiaan ke berbagai negara Islam. Misalnya, Sudan, Afghanistan, Somalia, dan Palestina. "Setelah 9/11, tidak lagi," ujar Profesor Mohammad Azarian, presiden Evansville Muslim Community.
Selain karena pemerintah Amerika mengawasi ketat, pihak-pihak penerima sumbangan sudah tidak jelas lagi. "Ada yang terlibat urusan politik, ada yang sudah meninggal, dan sebagainya," kata Azarian, asal Iran.
Ditanya berapa dana yang disumbangkan ke negara-negara tersebut, Azarian tak ingat pasti. Yang jelas, lebih dari USD 1 juta (sekitar Rp 900 juta). Meskipun sulit mengirimkan dana ke luar negeri, kedermawanan tak berhenti. Namun, dana itu lebih banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas umat. "Misalnya, peningkatan pendidikan," kata profesor matematika itu.
Azarian menambahkan, komunitas muslim di Amerika juga tertantang untuk ikut peduli menyumbang ke mereka yang membutuhkan di negeri sendiri tanpa memandang agama. Mereka ingin menjadi orang muslim sejati, sekaligus orang Amerika tulen. "Untuk sumbangan badai Katrina saja, komunitas Islam di Amerika menyumbang sekitar USD 10 juta (sekitar Rp 93 miliar)," katanya.
Dari segi finansial, organisasi itu memang cukup kuat. Tak jarang, Azarian menerima permintaan sumbangan dari orang-orang yang membutuhkan bantuan. Termasuk dari luar negeri. "Ini saya dapat surat dari Indonesia," tambahnya, sambil menunjukkan amplop cokelat.
Pengirim surat tersebut tertulis Abdullah Salam dari Batam, Kepulauan Riau. Dia meminta bantuan untuk pengobatan anaknya yang tergolek di rumah sakit.
Saat ini komunitas tersebut sudah punya lahan 5 acre di Newburgh, Evansville. "Kami ingin membangun Muslim Community Trust di sana," kata Azarian, yang juga pernah mengajak Jawa Pos meninjau lahan di timur Evansville itu. "Nanti ada Islamic Center, masjid, dan kantor-kantor lain di sini," lanjutnya.
Daerah tersebut dipilih karena letaknya strategis. "Daerah ini sering dilewati kendaraan yang datang dari Illinois, Kentucky, dan Louiville. Orang-orang muslim di daerah itu bakal gampang ke sini," imbuhnya.
Komunikasi komunitas muslim dengan warga lain sangat harmonis di Evansville. Hal itu, antara lain, tak lepas dari peran Universitas Evansville. Azarian sebagai salah seorang profesor di Universitas Evansville sangat dihormati. Apalagi, universitas itu juga punya departemen khusus yang mengurusi perbedaan. Namanya Diversity Initiatives.
"Karena kampus ini tidak terlalu besar, kami mengenal satu dengan yang lain. Kami memahami keberagaman mahasiswa dan pengajar di sini. Tidak boleh ada diskriminasi," ujar Robiaun Charles, direktur Diversity Initiatives.
Kendati kampus tersebut punya hubungan yang kental dengan United Methodist Church, mahasiswa dibebaskan untuk mempraktikkan ajaran agamanya. Bahkan, memberikan fasilitas. Yang muslim, misalnya, bisa menggunakan salah satu ruangan di gereja milik universitas untuk salat. "Kami juga membuka diri untuk konsultasi bagi siapa pun di kampus yang merasa didiskriminasi," sambungnya.
Saat ini tercatat ada 2.676 mahasiswa yang mengenyam pendidikan di kampus yang, menurut Princeton Review, termasuk kampus terbaik di Midwest itu.
Satu-satunya mahasiswa di sana yang "berbau Indonesia" adalah Mikael, 19. Dia warga negara AS, anak pasangan Amerika-Jogja. Ayahnya dulu bekerja di Freeport, Timika, Papua.
"Saya tak pernah merasakan berbeda dan diasingkan di sini," kata mahasiswa jurusan seni musik tersebut. Mikael, yang wajahnya lebih mirip orang Asia itu, lebih lancar berbahasa Inggris dibandingkan dengan Indonesia. (Laporan John Mohn dan Sara Azarian ini ditambah reportase Fuad Ariyanto dan Farouk Arnaz yang bulan lalu berkunjung ke Evansville)
Posted by PUMITA at 5:07 PM 1 comments